World Socialist Web Site
Enter email address
to receive news
about the WSWS


Add
Remove
SEARCH WSWS


ON THE WSWS
Donate to
the WSWS!


RSS Feed News Feed
Contact the
WSWS

Editorial Board
New Today
News & Analysis
Workers Struggles

Arts Review
History
Science
Polemics
Philosophy
Correspondence
Archive
About WSWS
About the ICFI
Help
Books Online

OTHER
LANGUAGES

German

French
Italian
Russian
Polish
Czech
Serbo-Croatian
Spanish
Portuguese
Turkish
Sinhala-
Tamil
Indonesian

LEAFLETS
Download in
PDF format

 

WSWS : Indonesian

Pasukan-pasukan penertib keamanan Indonesia membunuh pelajar-pelajar dalam bentrokan-bentrokan di Jakarta

Oleh Peter Symonds
8 December 1998

Pasukan-pasukan penertib keamanan Indonesia telah membunuh paling sedikit tiga pemrotes anti pemerintah hari Jumat siang ketika mereka melepaskan tembakan-tembakan dari jarak dekat dan menjalankan kendaraan-kendaraan berlapis-baja ke dalam barisan puluhan ribu orang di Jalan Sudirman, jalan raya besar di Jakarta Pusat. Empat orang lain termasuk seorang reporter wanita dari sebuah stasiun radio lokal menjadi korban ketika bentrokan-bentrokan dengan polisi dan militer berlanjut ke malam hari itu.

Laporan dari agen berita Reuters menggambarkan situasi itu sebagai daerah pertempuran:"Tentara-tentara berlutut ke atas satu lutut dan secara hati-hati menepatkan tembakan-tembakan mereka. Ada yang berdansa kemenangan sementara para pemrotes terpukul balik, yang lain memungut batu-batu yang dilemparkan ke arah mereka dan melemparkannya balik. Seorang wanita menangis tak henti-henti di sebelah tentara-tentara yang sedang menembaki para pemrotes, mengatakan bahwa anak laki-lakinya telah tertembak dan diseret balik."

Seorang pelajar lain dan seorang anggota polisi menjadi korban dalam bentrokan-bentrokan keras Kamis malam. Keseluruhan jumlah korban masih belum diketahui sewaktu protes-protes berlanjut Sabtu pagi. Sejumlah orang telah terluka, beberapa serius, setelah di tembak dengan peluru karet atau dipukuli dengan baton dan tongkat bambu. Dalam sebuah kejadian, seorang tentara berteriak,"Tunjukkan kalau kamu memang pahlawan," semerta menendangi seorang pelajar wanita berkali-kali.

Menteri Pertahanan Jendral Wiranto memberi lampu hijau untuk serangan terhadap para demonstran anti pemerintah ini ketika dia memperingatkan secara umum pada hari Jumat pagi bahwa tentara-tentaranya akan mengambil "tindakan keras" terhadap siapa saja yang mengganggu keamanan atau melanggar hukum. Dia memperingatkan para penduduk Jakarta untuk tinggal di rumah.

Peristiwa-peristiwa ini dan korban-korbannya menunjukkan karakter rejim B J Habibie dan Sidang Khusus MPR yang dimulai hari Selasa di gedung parlemen nasional yang sesungguhnya. Sejak bulan Mei Habibie dan Golkar-partai yang memegang pemerintahan-telah berusaha menciptakan kesan yang lebih demokratis, tetapi angkatan bersenjata tetap berpengaruh besar atas pemerintah.

ABRI bersiap-siap untuk sidang khusus MPR ini seperti sedang mempersiapkan diri untuk pertempuran besar. Lebih dari 30.000 tentara bersenjata lengkap dan polisi, didukung oleh tank-tank ringan, kendaraan-kendaraan berlapis-baja, kanon air, pasukan berkuda dan pasukan dengan anjing penyerang ditempatkan di selosok kota. Gedung Parlemen diamankan dengan kawat berduri dan barikade-barikade. Limabelas kapal perang ditempatkan di pelabuhan Priok.

Di atas itu, angkatan bersenjata merekrut lebih dari 100.000 "sukarelawan" dari antara pendukung-pendukung pemerintah di daerah-daerah luar kota, memancing mereka dengan janji bayaran A$2 per hari-lebih dari bayaran seorang pekerja pabrik. Bersenjatakan bambu runcing dan dibentuk menjadi kelompok-kelompok paramiliter, para tukang-pukul ini dilepaskan di Jakarta dalam usaha menakuti para pelajar dan para pendukung mereka. Paling sedikit dua orang dari para sukarelawan ini telah dilaporkan dikeroyok hari Jumat oleh para penduduk yang marah.

Pada hari Kamis, bank-bank, toko-toko dan kantor-kantor di Jakarta Pusat tutup pagi dan memulangkan pekerja-pekerja mereka. Ribuan orang menonton dan memberikan dukungan moral kepada para demonstran ketika mereka bergerak di jalan-jalan umum. Satu barisan pelajar berjalan melalui daerah-daerah miskin Jakarta mencari dukungan dari para pekerja, penganggur dan orang-orang miskin kota lainnya, yang kehidupannya telah tergoncang oleh krisis ekonomi negara yang berlanjut.

Demonstrasi-demonstrasi anti pemerintah oleh para mahasiswa juga terjadi di kota-kota besar di Indonesia yang lainnya selama minggu ini, termasuk Surabaya, Medan, Bandung, Solo, Pekanbaru, Pontianak, Banda Aceh, Padang, Jember, Samarinda, Jogjakarta, Lampung, Semarang dan Ujung Pandang.

Di Jogjakarta, ribuan pelajar memprotes aksi-aksi brutal angkatan bersenjata di Jakarta. Di Solo, para protestan pelajar menduduki stasiun radio RRI dan di Ujung Pandang, mereka menduduki airport internasionalnya. Di Banyumas, ratusan mahasiswa-mahasiswi menduduki kantor DPRD selama tiga hari. Mereka kemudian bergerak ke stasiun radio RRI untuk mengumumkan ketidakpuasan mereka atas Sidang Khusus MPR.

Para pelajar telah berulang kali mencela sidang khusus MPR yang terdiri dari wakil-wakil angkatan bersenjata, orang-orang yang dipilih karena pro Suharto dan anggota-anggota yang terpilih tahun lalu dalam pemilu yang dilaksanakan di bawah peraturan yang sangat ketat. Mereka menuntut agar Suharto dibawa ke pengadilan karena korupsi dan presiden Habibie mengundurkan diri dan menyingkir untuk sebuah pemerintahan sementara yang akan terdiri dari tokoh-tokoh oposisi seperti Megawati Sukarnoputri dan Amien Rais untuk mengawasi pelaksanaan pemilu tahun depan.

Para pemimpin mahasiswa telah juga mengajukan tuntutan untuk pengakhiran dwifungsi ABRI yang mulai dari kudeta berdarah 1965-66 yang membawa Suharto ke tampuk pemerintahan. Angkatan bersenjata memegang blok suara yang besar di dalam MPR dan posisi-posisi penting dalam kabinet Habibie serta posisi-posisi penting di tingkat lokal dan daerah.

Pemimpin-pemimpin oposisi Megawati, Rais, Abdurrahman Wahid dan Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan para pemimpin mahasiswa di Ciganjur di Jakarta Selatan dalam usaha untuk melunakkan tuntutan-tuntutan mereka. Keempatnya bersikeras bahwa Habibie dibiarkan memerintah sampai pemilu yang akan datang dan ABRI diberi enam tahun untuk mengakhiri peran politis mereka.

Pada hari Kamis, sejumlah pelajar dan pendukung mereka mengadakan Sidang Khusus Rakyat di Monumen Proklamasi di Jakarta Pusat walaupun ABRI berusaha membersihkan daerah itu. Para pembicara termasuk Matori Abdul Djalil, ketua umum Partai Kesadaran Rakyat dan Andi Arief, pendukung Partai Rakyat Demokrasi yang terlarang.

Tetapi perspektif politis semua partai-partai politis dan pemimpin-pemimpin mereka ini tetap terkurung dalam struktur sistem kapitalis. Megawati, Rais dan Wahid telah berulang-kali berusaha meredakan protes-protes mahasiswa terhadap rejim Habibie. Dasar politis utama dari pemimpin-pemimpin ini adalah penjalanan "reform market bebas" IMF dan tindakan-tindakan penghematan yang menyebabkan pemburukan krisis sosial yang menghadapi kebanyakan pekerja di Indonesia.

Sidang Khusus MPR itu selesai pada hari Jumat setelah meratifikasi 12 dekrit. Badan ini mengacuhkan imbauan dari para pelajar untuk penghapusan dwifungsi ABRI dan menetapkan pemilu untuk bulan Mei atau Juni tahun depan dan memberi Habibie sampai akhir tahun depan sebelum pemilihan presiden diadakan.

Pembunuhan para demonstran tak bersenjata di Jakarta pasti akan menambah ke krisis politis di Indonesia karena tidak ada satu pun tuntutan para mahasiswa yang telah terpenuhi. Lebih dari itu, aksi-aksi protes ini telah menunjukkan bahwa para pekerja, penganggur dan orang-orang miskin lainnya juga tidak mempunyai kepercayaan terhadap rejim Habibie dan bersedia untuk mendukung protes-protes anti pemerintah.

Top of page

The WSWS invites your comments.



Copyright 1998-2008
World Socialist Web Site
All rights reserved