World Socialist Web Site
Enter email address
to receive news
about the WSWS


Add
Remove
SEARCH WSWS


ON THE WSWS
Donate to
the WSWS!


RSS Feed News Feed
Contact the
WSWS

Editorial Board
New Today
News & Analysis
Workers Struggles

Arts Review
History
Science
Polemics
Philosophy
Correspondence
Archive
About WSWS
About the ICFI
Help
Books Online

OTHER
LANGUAGES

German

French
Italian
Russian
Polish
Czech
Serbo-Croatian
Spanish
Portuguese
Turkish
Sinhala-
Tamil
Indonesian

LEAFLETS
Download in
PDF format

 

WSWS : Indonesian

Protes berlanjut walaupun militer mengambil tindakan keras di Indonesia

Oleh Peter Symonds
8 December 1998

Protes-protes besar berlanjut di Indonesia kemarin, dengan para demonstran menuntut pemecatan menteri Hankam dan kepala ABRI Jendral Wiranto setelah kekerasan militer minggu lalu, yang meminta 14 korban dan mengakibatkan 448 orang terluka. Demonstrasi-demonstrasi massa diadakan di kampus-kampus universitas di Jakarta untuk berbela-sungkawa atas sedikitnya tujuh mahasiswa yang ditembak mati oleh tentara ABRI yang menembak dari jarak dekat ke arah para demonstran pada hari Jumat. Ribuan mahasiswa dan pelajar berkumpul di Bandung di Jawa Barat dan Palu di Sulawesi Tengah.

Pada hari Sabtu, puluhan ribu demonstran memenuhi jalan-jalan di kota-kota seluruh Indonesia untuk melampiaskan kemarahan mereka terhadap ABRI dan rejim Habibie. Di Jakarta, sebuah kerumunan membengkak menjadi kira-kira 50.000 di luar Gedung Parlemen Nasional-fokus protes-protes minggu lalu terhadap Sidang Khusus MPR. Di bagian-bagian lain dari ibukota, kompleks-kompleks pertokoan, bank-bank, ruang-ruang pertunjukan dan toko-toko, termasuk yang dimiliki oleh orang-orang Cina, dirampok dan dibakar. Salah satu target utama adalah pasukan keamanan sendiri-kendaraan-kendaraan militer dan pos-pos polisi dibakar dan dua kantor polisi dicoba dibakar oleh massa.

Di kota industri Medan di Sumatra Utara, 10.000 mahasiswa dan pelajar memenuhi airport kota, menghentikan lalu-lintas udara selama empat jam sementara mereka mendengarkan pidato-pidato yang memprotes aksi-aksi ABRI di Jakarta. Di Bandung, 20.000 mahasiswa dan pelajar berkumpul di dua lokasi-di gedung DPRD Jawa Barat dan di Pusat Komando Siliwangi-sebelum berjalan seputar kota. Protes-protes besar juga diadakan di 14 kota besar yang lain, termasuk Bogor, Surabaya, Jogjakarta, Solo, Denpasar, Semarang dan Padang.

Presiden BJ Habibie telah menanggapi penyebarluasan protes-protes anti pemerintah dengan memerintahkan militer untuk mengambil tindakan keras terhadap kelompok-kelompok "subversif". Selama hari Sabtu dan Minggu polisi telah mencakup beberapa orang yang telah menandatangani komunike bersama pada hari Kamis lalu yang menuntut dia untuk turun jabatan dan pembentukan sebuah "presidium" populer sebagai pemerintahan transisi untuk mengawasi pemilu.

Orang-orang yang diinterogasi termasuk purnawirawan jendral marinir Ali Sadikin, purnawirawan jendral Kemal Idris dan Sri Bintang Pamungkas. Sadikin dan Idris adalah anggota Barisan Nasional, kelompok para bekas anggota militer, politisi dan sarjana-sarjana yang kritikal Suharto dan Habibie. Pamungkas, bekas tahanan politik, adalah ketua PUDI.

Habibie berusaha membuat para kritik moderat ini kambing-hitam untuk penembakan-penembakan minggu lalu. Dia dan menteri-menteri lain mengajukan bahwa imbauan untuk sebuah "presidium" untuk memerintah negara adalah subversif dan bahwa kelompok ini menggunakan demonstrasi-demonstrasi mahasiswa untuk menggulingkan pemerintah. Semua yang ditahan bisa menghadapi tuduhan-tuduhan berat di bawah hukum-hukum keamanan di Indonesia.

Pembunuhan para demonstran yang tidak bersenjata merupakan keputusan yang direncanakan oleh ABRI dan rejim itu. Protes-protes di ibukota terhadap Sidang Khusus MPR berkembang dengan cepat dalam ukuran dan kekuatan minggu lalu-dari ratusan ke puluhan ribu. Dalam beberapa kejadian, para mahasiswa diikuti dan dibantu oleh para pekerja, penganggur dan warga kota yang miskin lainnya, yang telah mengalami turunnya penghasilan secara drastis selama enam bulan pemerintahan Habibie.

Setelah bentrokan-bentrokan keras antara pasukan pengaman dan para demonstran pada hari Kamis, Wiranto mengambil-alih komando 30.000 polisi dan aparat militer di seluruh Jakarta secara langsung. Di pagi hari berikutnya, dia mengeluarkan peringatan umum bahwa "tindakan keras" akan dilakukan terhadap siapa saja yang mengganggu ketertiban dan mengimbau para warga untuk tinggal di rumah. Siang hari itu tentara-tentara secara sengaja menepatkan senapan-senapan mereka dan menembak para demonstran yang berkumpul di sebuah jalan raya di Jakarta.

Kejadian-kejadian berdarah ini telah mempersiapkan panggung untuk pendalaman pergolakan politis di Indonesia. Habibie berusaha keras untuk mengamankan posisinya dengan menawarkan dialog dengan para pemimpin pergerakan mahasiswa dan juga mengisyaratkan kemungkinan pemilihan presiden baru setelah pemilu tahun depan di bulan Mei atau Juni, daripada di akhir tahun seperti yang diproposisikan sebelumnya.

Habibie dan ABRI secara politis mengandalkan tokoh-tokoh penting oposisi seperti Megawati Sukarnoputri, Amien Rais, Abdurrahman Wahid dan Sultan Hamengku Buwono X yang telah berulang-kali menentang tuntutan para mahasiswa untuk penggantian rejim ini dengan semacam komite populer.

Keempatnya bertemu minggu lalu dan mengeluarkan deklarasi bersama yang mengimbau MPR untuk sedikit merubah dekrit-dekritnya, dengan begitu Habibie dibuat sebagai presiden transisi dan pemercepatan proses penggantiannya. Tetapi mereka menolak panggilan-panggilan untuk tidak mengakui sidang MPR itu dan tuntutan-tuntutan para mahasiswa untuk pemberhentian peranan ABRI dalam kehidupan politis di Indonesia, mengatakan bahwa itu harus dilakukan secara bertahap selama enam tahun. Tidak saja ABRI memegang posisi keamanan penting di kabinet dan sebuah blok dalam DPR, tetapi puluhan ribu perwira ABRI memegang posisi-posisi pemerintah di tingkat nasional, provinsi dan lokal di seluruh negara.

Sepanjang protes-protes di bulan Mei yang menurunkan Suharto dan sekarang dengan demonstrasi-demonstrasi anti-Habibie; Sukarnoputri, Rais dan Wahid telah tidak bersedia untuk memobilisasi pendukung-pendukung mereka yang berjumlah jutaan. Dengan begitu mereka berperan sebagai penyangga politis langsung rejim yang didukung militer ini. Pada hari Sabtu malam, Rais mengadakan pertemuan pribadi dengan Habibie dan menawarkan delapan minggu waktu tambahan.

Dalam sebuah konperensi pers hari Senin, Rais memperingatkan:"Kalau dalam delapan minggu tidak ada yang terjadi dan, seperti di bawah Suharto, dekrit-dekrit MPR dimasukkan laci saja...maka kita hanya bisa mengatakan selamat tinggal kepada rejim transisi ini." Seperti wakil-wakil politis kelas penguasa lainnya, Rais khawatir jika protes-protes ini akan menyulut kerusuhan sosial yang luas di antara pekerja, petani kecil dan kaum miskin yang akan menggoncangkan fondasi kapitalisme Indonesia.

Para pelajar dan mahasiswa yang menaruh harapan mereka untuk sebuah reformasi politis dengan tokoh oposisi burjuis seperti Rais sedang dituntun menuju gang buntu politis. Demokrasi yang sungguhan, ekualitas sosial dan mutu kehidupan yang patut hanya bisa dinyatakan dengan mengarahkan diri ke arah para buruh dan pekerja dan mendirikan pergerakan politis massa sepanjang garis-garis sosialis yang mencakup bagian-bagian masyarakat yang miskin.

Top of page

The WSWS invites your comments.



Copyright 1998-2008
World Socialist Web Site
All rights reserved