Dengan mendalamnya krisis Suharto
Masalah-masalah yang mendesak sedang dihadapi oleh rakyat
Indonesia
Oleh Dewan Redaksi
16 Mei 1998
[Dengar] Real
Audio [PDF] Formatted
Adobe Acrobat leaflet
Also in English and German
Suharto telah memperpendek kunjungannya ke Mesir untuk pulang
ke tanah air yang runtuh oleh protes massa dan kerusuhan. Dengan
bertambahnya tuntutan untuk mengunduran diri yang berasal bukan
hanya dari mahasiswa dan para buruh saja, tetapi juga dari bagian
ekonomi golongan atas di dalam negeri dan pemimpin-pemimpin dari
susunan modal internasional di luar negeri, kelanjutan dari kediktaktoran
Suharto selama 32 tahun ini sedang dipertanyakan.
Tetapi ini tidak dapat disimpulkan bahwa Suharto akan merasakan
keharusan untuk meletakkan jabatannya. Masih banyak kekhawatiran
baik didalam borjuis internasional dan bisnis-bisnis di Indonesia
maupun di dalam lingkaran militer akan pemecatannya, karena mereka
masih tidak yakin bahwa mereka akan mendapatkan penggantinya.
Tetapi meskipun orang tegar yang sudah berusia 76 tahun ini
akan pergi, keberangkatannya akan menandakan bahwa tantangan-tantangan
politik yang dihadapi oleh rakyat Indonesia bukan malah akan berakhir
tetapi baru saja dimulai. Terbentangnya pergejolakan sosial ini
telah menimbulkan rantaian masalah-masalah yang sangat penting.
Pada dasarnya, dengan kegagalan (yang sering disebutkan sebagai)
keajaiban ekonomik di Asia telah mengungkapkan ketidak-mampuan
dari sistem keuntungan dan pasar modal untuk mencukupi kebutuhan
pokok rakyat. Dalam analis terakhir, rejim Suharto dan pemerintahan
yang lalim di negara-negara Asia yang lainnya adalah alat-alat
politik yang digunakan oleh bank-bank internasional dan korporasi-korporasi
dan pemerintah yang bersedia memberikan tawaran mereka untuk membangun
hubungan-hubungan kapitalis di daerah itu.
Dengan meluasnya daerah-daerah yang dapat digunakan untuk membuat
keuntungan, penggunaan kekayaan dari sumber-sumber natural dan
pemerasan buruh-buruh yang dibayar dengan murah telah di perkembangkan.
Berulang-ulang perluasan kapitalis sering dibangun diatas mayat-mayat
yang menggunung seperti setengah juta buruh yang dibunuh
oleh Suharto dalam kudeta yang didukung oleh America Serikat pada
tahun 1965-66 yang memberikan kesempatan kepada Suharto untuk
mengambil kekuasaan.
Jika sekarang kekuatan imperialis yang sudah mendukung diktaktor
itu selama tiga abad menoleh kearah yang lain, hal itu disebabkan
karena mereka sudah kehilangan keyakinan akan kemampuannya untuk
membayar pinjaman negara kepada bank-bank besar dan pemungut pinjaman
untuk keuangan seluruh dunia, I.M.F (Dana Moneter Internasional).
Kantor pemberitaan milik kapitalis mulai dari Washington, ke Bonn,
ke Tokyo dan Sydney sedang dipenuhi oleh tanjuk rencana dan ulasan-ulasan
yang memohon agar kaum militer Suharto bercampur tangan dengan
mengambil pengendalian langsung atau memasang boneka yang dapat
ditunjukkan sebagai pembawa reformasi demokrasi, hal itu akan
lebih baik bagi kepentingan kapitalis, untuk menghancurkan bahaya
sosial dari bawah dan memaksakan peraturan-peraturan ekonomi yang
dituntut oleh I.M.F dan bank-bank internasional.
Menurut Koran New York Times , di dalam tanjuk rencananya
pada tanggal 15 Mei berjudul "Sunset for President Suharto"
(Matahari terbenam untuk Presiden Suharto), menyarankan bahwa
sudah saatnya bagi kaum militer untuk mengambil tindakan ("
..mungkin
tentara itu harus berbalik melawannya untuk memberhentikan penumpahan
darah
"). Walaupun demikian tanjuk rencana itu menjelaskan
bahwa keseganan koran Times kepada penumpahan darah itu
adalah berdasarkan pemilihan. Dia menginginkan agar pembunuhan
Mahasiswa-mahasiswa yang protes segera diberhentikan, paling tidak
untuk sementara ini, dan seharusnya kekuatan penembak itu ditujukan
kepada lapisan masyarakat yang miskin dan berani mati: "Kaum
militer sebenarnya harus menolak penindasan protest damai itu
and memusatkan perhatiannya untuk menghentikan perampokkan dan
gerombolan kejahatan."
Dengan mengunakan hal itu sebagai dasar dia mendesak untuk
penempatan pemerintah reformasi di Indonesia yang sebanding dengan
Kim Dae Jung di Korea Selatan, seperti yang koran Times
itu tunjukkan, " telah berhasil membujuk rakyat untuk menerima
peraturan-peraturan yang tidak bisa dilaksanakan oleh pemegang
jabatan sebelumnya.
Kaum buruh Indonesia, petani-petani miskin dan mahasiswa-mahasiswa
harus memusatkan perhatian kepada resep yang diberikan oleh koran
Times kepada tanah airnya. Hal ini akan membantu untuk
mengusir khayalan di dalam kepalsuan demokrasi dari America Serikat
dan melawan penyalah-tempatan kepercayaan di dalam borjuis oposisi
Suharto.
Contoh-contoh yang diberikan oleh pemerintahan Kim Dae Jung
telah membuktikan dengan tepat bahwa pengangkatan liberal burjois
kekekuasaan meskipun dengan surat-surat kepercayaan tertentu
tidaklah akan memecahkan masalah-masalah demokrasi dan
kekurangan-kekurangan sosial yang sedang dihadapi oleh masyarakat.
Dengan sebaliknya, rejim yang seperti itu akan menjadi alat-alat
baru untuk memaksakan perintah-perintah dari kapital internasional
dan kepentingan-kepentingan pemeras-pemeras pribumi, sehingga
jalan menuju ke arah penindasan berdarah yang baru tidak akan
dapat dihindari.
Setiap partai burjuis dan politikus di Indonesia sudah dicemari
bukan saja dengan sebuah sejarah kerjasama dengan Suharto, tetapi
juga oleh ketegantungan yang objektif pada biro-biro peminjaman
dari kapitalisme. Mereka tidak berbicara untuk kaum buruh dan
orang-orang yang tertindas, tetapi malah untuk golongan atas yang
berpikiran sempit, yang kedudukan istimewanya berdasarkan atas
pemerasan buruh-buruh, dan didukung oleh korporasi-korporasi yang
dapat berpindah dari satu negara ke negara lainnya dengan mudah
dan pemerintah imperialisme.
Gerakan mahasiswa yang besar harus mempertahankan kemandirian
politik yang lengkap jauh dari perwakilan burjuis Indonesia. Jangan
menaruh kepercayaan kepada tokoh seperti Amien Rais, pemimpin
dari organisasi Islam yang terbesar di Indonesia atau Megawati
Sukarnoputri, anak perempuan Sukarno yang memegang jabatan sebelum
Suharto.
Megawati Sukarnoputri banyak disamakan dengan Corazon Aquino,
tokoh reformasi burjuis yang dipergunakan oleh America Serikat
untuk mengantikan rejim Marcos di Filipina dua belas tahun yang
lalu. Tidak ada seorangpun yang harus mempunyai khayalan bahwa
Aquino dan pergerakan "peoples power" telah menolong
pembebasan rakyat Filipina dari penguasa imperialis, pemerasan
atau kemiskinan. Sebaliknya, peranan mereka yang terpenting adalah
untuk mempertahankan kedudukan dan menopang kepentingan-kepentingan
dari kapital internasional, dibawah keadaan dimana Marcos sudah
tidak dipercayai sehingga dia tidak dapat lagi menjalankannya.
Lebih dari itu, Aquino naik kekekuasaan ketika ekonomi di Asia
Selatan sedang mencapai titik kemajuan yang tinggi. Seorang Megawati
atau Amien Rais akan naik kekekuasaan di Indonesia dalam situasi-situasi
yang sebaliknya di tengah-tengah kehancuran ekonomi. Mereka
akan mempunyai ruangan yang sempit untuk mempersiapkan siasat,
dan pada akhirnya kepalsuan demokrasi mereka akan segera membuka
jalan untuk pemaksaan politik-politik kekerasan dan peraturan-peraturan
militer-polisi akan dibutuhkan untuk melaksanakannya.
Kekuatan sosial yang mahasiswa-mahasiswa harus berkisar dalam
perjuangan untuk melawan pemerintahan diktaktor dan kekurangan-kekurangan
sosial adalah kaum buruh yang jumlah dan kekuatan sosialnya sudah
tumbuh dengan cepat lebih dari seperempat abad yang lalu.
Apakah yang kemudian harus menjadi tugas-tugas utama yang dihadapi
oleh rakyat Indonesia? Sebuah rangkaian yang menyeluruh dari demokrasi
dan masalah-masalah sosial yang saling berhubungan masih berdiri
untuk diuraikan. Masalah-masalah yang paling dasar dari hak-hak
atas demokrasi-kebebasan untuk berbicara dan berserikat, kebebasan
untuk penyebaran berita, pemerintahan demokrasi yang sejati tidak
dapat diuraikan secara tersendiri dari masalah-masalah sosial
yang besar- pemberantasan kemiskinan, pengangguran, buta huruf.
Dan tidak ada penguraian yang sejati dan maju untuk masalah social
yang besar ini, tanpa perebutan segala bentuk hak-hak istimewa
dari golongan atas dan perjuangan, baik untuk sosial maupun politik
persamaan (equality). Akhirnya, perjuangan untuk demokrasi dan
persamaan adalah pertarungan untuk melawan imperialisme penguasaan
dan wakil-wakilnya di Indonesia.
Bersama dengan tuntutan untuk hak-hak atas demokrasi yang penuh,
gerakan-gerakan rakyat harus menegakkan tuntutan-tuntutan sosial
dan ekonomi yang tidak akan tercapai tanpa adanya demokrasi yang
sejati dan keadaan hidup yang pantas. Itu akan termasuk:
- penolakkan akan pinjaman-pinjaman nasional yaitu cara-cara
yang mana digunakan dengan bank-bank imperialis untuk mempertahankan
pencekikannya kepada Indonesia ekonomi dan penyedotan keuntungan
yang sangat besar dari pemerasan kepada para buruh.
- Penyitaan bank-bank besar and industri-industri yang dikuasai
oleh keluarga Suharto dan antek-anteknya, dan perubahannya sebagai
milik umum dibawah kontrol yang demokrasi dari para buruh.
Untuk membuat tuntutan-tuntutan ini menjadi kenyataan, kaum
buruh harus mendirikan susunan-susunan yang demokrasi dan mandiri
untuk penguasaan politik. Berdasarkan dengan pabrik-pabrik, tempat-tempat
pekerjaan dan lapangan-lapangan pekerjaan di pedesaan, para buruh
harus berusaha untuk mendirikan dewan-dewan buruh, untuk membuat
dasar-dasar umum bagi pemerintahan oleh kaum buruh
Peristiwa-peristiwa di dalam beberapa tahun terakhir ini di
Asia menunjukkan bahwa hal-hal dasar yang sama yang sedang dihadapi
oleh para buruh dan rakyat jelata di Indonesia sebenarnya juga
dihadapi oleh kakak dan adiknya di Thailand, Korea, Malasia, dan
Cina, dan juga yang lama-lama menjadi terang adalah Jepang. Kaum
buruh di Indonesia harus mengambil kepemimpinan dalam mendirikan
perjuangan yang bersatu dengan para buruh di seluruh Asia.
Peristiwa-peristiwa di Indonesia telah menunjukkan dengan ledakan
yang dashyat bahwa para buruh di seluruh dunia sedang memasuki
sebuah masa revolusi yang baru. Tugas-tugas yang terpenting,dimana
nasib dari masyarakat dunia akan bergantung adalah pendirian partai
revolusi internasional. Partai ini telah dibuktikan di dalam komite
International dari International keempat (International Committee
of the Fourth International) yang pusat dari alat politiknya adalah
World Socialist Web Site.
See Also:
Which social classes support the struggle
for democracy in Indonesia?
The lessons of history
[20 May 1998 Also in German
and Indonesian]
Top of page
The WSWS invites your comments.
Copyright 1998-2008
World Socialist Web Site
All rights reserved |