ON THE
WSWS
Donate
to
the WSWS!
News Feed
Contact
the
WSWS
Editorial
Board
New
Today
News
& Analysis
Workers
Struggles
Arts
Review
History
Science
Polemics
Philosophy
Correspondence
Archive
About
WSWS
About
the ICFI
Help
Books
Online
OTHER
LANGUAGES
German
French
Italian
Russian
Polish
Czech
Serbo-Croatian
Spanish
Portuguese
Turkish
Sinhala-
Tamil
Indonesian
LEAFLETS
Download
in
PDF format
|
|
Perjuangan untuk demokrasi
di Indonesia
Apakah tugas-tugas sosial dan politis yang dihadapi oleh rakyat?
Oleh Dewan Editorial
23 Mei 1998
Also in English and German
Dengan saat-saat yang penuh dengan peristiwa-peristiwa dan
bermuatan politis ini sedang mendekati penutupannya, hal-hal politis
dan sosial yang terpenting yang mendasari krisis ini telah dibawa
kepenyelesaian yang tajam. Pengunduran diri Suharto yang sesungguhnya
telah menggaris-bawahi kenyataan-kenyataan bahwa masalah-masalah
dari penindasan politis, pengangguran, kemiskinan, pembedaan bangsa
dan agama dan kekuasaan imperialis telah mempunyai akar-akar yang
lebih dalam daripada ketamakan dan korupsi oleh pemerintahan secara
perorangan.
Pengganti Suharto yang dipilih secara hati-hati dan antek lamanya
B.J. Habibie telah mengumumkan sebuah kabinet yang berisi banyak
menteri-menteri yang terpenting dari pemerintahan yang sebelumnya,
termasuk komandan ABRI Jenderal Wiranto sebagai Menteri Pertahanan,
dan bekas kepala militer Feisal Tanjung sebagai menteri Kordinator
untuk urusan-urusan politik. Salah satu dari keputusan rejim militer
itu adalah perintah untuk tentara-tentara agar memindahkan dengan
kekuatan dari gedung parlemen ribuan pelajar dan mahasiswa yang
menempati dan menuntut perubahan perubahan demokrasi secara meluas.
Memang akan sangat sulit untuk dibantah dengan bermuka lurus
bahwa Habibie dalam derajat yang sekecil apapun telah menjelmakan
aspirasi-aspirasi demokrasi untuk rakyat Indonesia. Pemilik-pemilik
bank dan politikus-politikus di negara barat, bersama dengan elemen-elemen
dalam militer dan kelompok-kelompok bisnis di Indonesia, tidak
mempunyai kepercayaan bahwa presiden yang baru ini akan dapat
memaksakan politik-politik keras yang dituntut oleh Dana Moneter
Internasional (IMF), dengan menindas gelombang protes sosial dan
memulihkan ekonomi dan keseimbangan politis.Oleh karena itu, dari
White House di Washington sampai ke kantor oposisi-oposisi burjuis
di Jakarta, permohonan-permohonan telah dibuat untuk perubahan
segera dari apa yang selalu dinamakan sebagai reformasi demokrasi
yang berarti itu.
Tetapi apa isi dari "demokrasi" yang dirumuskan untuk
Indonesia oleh pemimpin-pemimpin kapitalis dari negara barat dan
burjuis oposisi Suharto di tanah air itu? Mereka semua telah mengambil
sebagai titik permulaannya, kepentingan-kepentingan Indonesia
untuk membayar kembali pinjaman-pinjamannya kepada bank-bank imperialis
dan IMF. Dipusat dari yang sering disebutkan sebagai program reformasi
yang dituntut oleh institusi-institusi keuangan ini adalah penarikan
dari semua pembatasan-pembatasan dalam pengunaan secara semena-mena
dari sumber-sumber alam negara dan tenaga kerja yang murah oleh
korporasi-korporasi transnasional.
Bagi Suharto dan antek-anteknya, reformasi IMF mungkin akan
mengurangi jumlah perampokan dari ekonomi nasional, tetapi siapapun
harus meragukan bahwa keuntungan-keuntungan besar mereka akan
dilindungi, Jenderal Wiranto sudah memberikan jaminan bahwa angkatan
bersenjata akan melindungi keluarga Suharto dan bisnis-bisnis
mereka.
Bagi para buruh, petani-petani dan orang-orang miskin, jalan
ini akan mengakibatkan berakhirnya subsidi-subsidi dari harga
bahan-bahan pokok, yang akan merupakan kelanjutan pemberhentian
massal dari pekerjaan dan, secara keseluruhan, merupakan sebuah
penghebatan dari penderitaan sosial yang tak terhitung lagi. Sumber-sumber
di negara barat secara terus terang telah meramalkan sebuah kenaikan
yang pesat dari jumlah pengangguran yang resmi yang akan mencapai
20 persen.
Tugas-tugas dari reformasi politis, sebagai yang ditentukan
oleh mereka yang menerima tuntutan dari bank-bank internasional,
adalah untuk membuat pelaksanaan dari kekerasan-kekerasan yang
brutal itu menjadi lebih mudah untuk diterima dan lebih
mudah dipaksakan dengan menggunakan kata-kata yang muluk
dan perhiasan-perhiasan luar dari demokrasi. Tetapi biarpun pada
saat mereka berbicara tentang "people power" dan hal-hal
yang sama seperti itu, mereka mendesak bahwa kekuasaan yang sebenarnya
masih tetap berada ditangan Suharto militer sebuah institusi
yang tangannya telah dinodai oleh darah dari ratusan sampai ribuan
warga negaranya.
Perolokan demokrasi ini mengaris-bawahi perbedaan yang menyolok
di antara demokrasi yang dipercayai secara mendalam dan aspirasi-aspirasi
social dari rakyat Indonesia dan kepentingan-kepentingan buat
diri sendiri dari golongan burjuis yang jumlahnya sangat kecil
dan elemen-elemen dari golongan menegah atas, yang terikat kaki
dan tangannya kepada institusi-institusi keuangan imperialis dan
pemerintahan-pemerintahan.
Demokrasi bagi para buruh, petani-petani dan pemuda-pemuda
harus berarti sebagai kebebasan politis, berakhirnya dari pembedaan
dari bangsa, agama dan suku bangsa, dan pembebasan dengan kehancuran
ikatan-ikatan dari penindasan ekonomi dan kemiskinan. Hal itu
tidak akan menjadi kenyataan tanpa menjalankan dan memutuskan
dengan cara-cara yang maju, hal-hal sosial yang mendasar yang
sedang dihadapi oleh masyarakat. Langkah-langkah apakah yang harus
diambilkan untuk meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan demokrasi
tersebut?
- Dirikan sebuah sidang pemilihan, pilihlah secara demokratis
dengan berdasarkan pemungutan suara yang umum,untuk membuat rencana
bekerja politis untuk reformasi yang sejati. Badan tersebut akan
menyatakan aspirasi-aspirasi dari para buruh, petani-petani dan
rakyat yang miskin yang merupakan kebalikkan dari sidang nasional
yang distampel oleh Suharto, yang sebagian besar dari anggota-anggotanya
dipilih secara hati-hati atau calon-calon dari tiga partai politis
resmi yang dijalankan oleh negara itu. Untuk mengadakan pemilihan
umum yang demokratis, seluruh hukum-hukum yang melarang ketidak-setujuan
terhadap pemerintah dan pembatasan-pembatasan kepada partai-partai
politis dalam kebebasan untuk berbicara dan berserikat harus
dihapuskan. Semua tahanan politis harus dibebaskan dengan segera.
- Bebaskan kaum petani dari penindasan politis dan ekonomis.
Jutaan dari petani-petani kecil telah menjalankan kehidupan yang
sangat terbatas, dengan berhutang kepada tukang-tukang peminjam
uang, kekurangan peralatan, mesin-mesin dan pupuk, dan sedang
menghadapi kemarau yang panjang. Banyak petani yang dipaksa untuk
meninggalkan ladangnya tanpa dapat kembali lagi oleh perusahaan-perusahaan
pertanian. Pertanian-pertanian yang besar dan perkebunan-perkebunan
harus dijadikan milik negara, dibawah kontrol petani-petani dan
buruh-buruh pertanian, sehingga dapat membantu petani-petani
kecil.
- Jaminan ekonomi kepada para buruh dan rakyat yang miskin.
Berjutaan buruh telah menjadi pengangguran pada tahun lalu, dengan
bertambahnya jumlah kemiskinan di gubuk-gubuk di sekitar Jakarta
dan kota-kota besar lainnya.Setiap pekerja harus dijamin dengan
pekerjaan yang berkondisi dan gagi yang layak. Kesejahteraan,
kesehatan umum dan perumahan harus diperluaskan sehingga perawatan
bagi orang-orang yang sudah lanjut usianya, cacat dan tidak mempunyai
kemampuan untuk bekerja lagi, dapat diadakan. Setiap orang muda
harus mendapatkan pendidikan yang terbaik dengan cuma-cuma.
Langkah pertama adalah dengan penyitaan uang yang berjumlah
jutaan dollar di dalam aktiva-aktiva milik Suharto, keluarga
dan antek-anteknya dan perubahan dari saham-saham korporasi mereka
menjadi persatuan-persatuan umum yang berada dibawah kontrol
kaum buruh dengan secara demokratis.
- Persamaan (equality) yang penuh untuk semua agama, bangsa
dan suku bangsa di dalam Indonesia. Sejak hari kemerdekaan dari
negara Indonesia yang secara resmi, Kaum golongan atas telah
berkali-kali, dengan sengaja memperbesarkan perbedaan suku bangsa
dan agama untuk mengadu domba rakyat satu sama lain. Semua hukum
dan peraturan yang memperbedakan orang-orang cina dan kelompok-kelompok
lain yang berhubungan dengan kesempatan kerja, kewarganegaraan
dan hak-hak yang lainnya harus dihapuskan.
- Penarikan segera dari seluruh tentara Indonesia dari Timor
Timur dan pendirian-pendirian perhubungan persaudaraan dengan
rakyat di negara itu. Ratusan sampai ribuan orang terbunuh dalam
perang yang panjang melawan rejim Suharto yang ingin mempertahankan
kekuasaannya diatas rakyat dan kekayaan alam di Timor Timur.
- Pembebasan dari penindasan oleh bank-bank imperialis dan
pemerintahan-pemerintahan. Tuntutan IMF itu ditujukan untuk memperdalam
pengunaan kaum buruh di Indonesia secara kejam untuk meningkatkan
jumlah keuntungan-keuntungan yang mengalir ke dalam peti uang
milik korporasi-korporasi transnasional. Rencana-rencana IMF
itu harus ditolak bersama dengan jutaan dollar dalam pinjaman
dari negara asing yang seharusnya dibayarkan kepada bank-bank
internasional dan rumah-rumah keuangan.
Tidak ada satupun dari tindakan-tindakan ini yang akan dilaksanakan
oleh fraksi-fraksi kaum burjuis di Indonesia ataupun oleh kekuatan-kekuatan
dari burjuis oposisi, dan lebih-lebih oleh Amien Rais yang organisasi
Islam Muhammadiyah-nya berlumuran dengan racisme (pembedaan bangsa)
dan memegang peranan di dalam pembunuhan massal pada waktu koup
militer Suharto ditahun 1965-66.
Seluruh sejarah dari masa sesudah perang dunia di Indonesia
telah menunjukkan akan ketidak mampuan dari kaum kapitalis untuk
memenuhi kebutuhan dan aspirasi dari massa buruh untuk hak-hak
demokratis dan kehidupan yang layak. Dengan merendahkan diri kepada
modal keuangan internasional, kaum burjuis telah berkali-kali
memilih kembali kediktatoran, dalam satu bentuk atau bentuk lainnya,
sehingga kekuasaannya dapat dipaksakan. Di bawah kondisi saat
ini yaitu dalam ekonomi dan politis kekalutan, kaum itu tidak
akan mempunyai pilihan lain tetapi untuk menggunakan cara-cara
yang kejam untuk memaksakan dikte-dikte ekonominya.
Hanya kaum buruh yang dapat memimpin rakyat yang tertindas
ke jalan untuk demokrasi yang sejati, dan hal itu tidak terpisahkan
dari perjuangan untuk sosialisme. Para pekerja harus mulai membangun
badan-badan demokrasi milik mereka sendiri, bangun persekutuan
dengan para petani yang miskin, orang pedesaan yang miskin dan
ahli-ahli yang tidak mempunyai kehidupan yang layak itu, dan berjuang
untuk mendirikan sebuah pemerintahan milik para buruh dan petani.
This statement is available as a formatted
PDF file to download and distribute
To read PDF files you will require Adobe Acrobat
Reader software (Download
Acrobat Reader)
See Also:
Dengan mendalamnya krisis Suharto:
Masalah-masalah yang mendesak sedang dihadapi oleh rakyat Indonesia
[16 May 1998]
Surat Untuk Para Pelajar dan Guru Indonesia
[18 May 1998]
Top of page
The WSWS invites your comments.
Copyright 1998-2008
World Socialist Web Site
All rights reserved |