Pembebasan tahanan berdasarkan atas pemilihan Habibie
Oleh Mike Head
28 Mei 1998
Also in English
Sebuah jumlah yang tidak diketahui dari tahanan-tahanan politis
-- paling sedikit ribuan ditinggalkan di dalam penjara-penjara
milik diktator Indonesia, termasuk di Timor Timur dan Irian Jaya.
Dimana rejim itu dan badan-badan pers membicarakan tentang 200
tahanan politis, juru bicara dari bantuan resmi (legal aid) yang
resmi telah mengaku bahwa jumlah itu ternyata adalah jauh lebih
besar.
Keputusan pemerintah Habibie untuk membebaskan dua tahanan
politik yang terkenal itu, dan yang berhubungan dengan pertunjukan
yang gaduh dari pers karena itu memerlukan sejumlah penelitian.
Mengapa rejim yang didukung oleh militer ini telah memilih dua
orang tahanan tersebut ketua tidak resmi dari serikat buruh
Muchtar Pakpahan dan bekas anggota parlemen Sri Bintang Pamungkas?
Mungkin akan ada perembetan dari pembebasan yang seperti itu
dalam beberapa hari ini. Menteri Kehakiman Muladi menyatakan kabinet
akan membicarakan pembebasan dari 10 sampai 15 tahanan yang masih
dipenjara karena mengeritik Suharto. Tetapi ia menolak pembebasan
dari "penjahat-penjahat" dan orang-orang yang menentang
ideologi negara dari rejim di Jakarta ( yang dikenal sebagai pancasila).
Dia secara sepesifik menolak pembebasan dari 10 anggota Partai
Komunis Indonesia (PKI), yang dipenjarakan 30 tahun yang lalu
mengikuti koup militer berdarah Suharto pada tahun 1965, dan sejumlah
anggota dari Peoples Democratic Party (PRD) yang dilarang yang
dipenjarakan pada tahun 1966 setelah penggeledahan yang diorganisir
oleh negara pada gedung pimpinan pusat Partai Demokrasi Indonesia
(PDI) untuk memaksakan pendesakan dari pemimpin partai itu, Megawati
Sukarnoputri. Menteri Luar Negeri Ali Alatas mengumumkan bahwa
pemimpin Timor Timur Xanana Gusmao tidak akan dibebaskan, karena
dia telah dijeniskan sebagai seorang "penjahat".
Jawaban oleh negara Barat kepada pernyataan Muladi telah digambarkan
oleh Perdana Menteri Australia John Howard yang mengatakan adanya
tanda-tanda yang memberikan semangat bahwa sampai 15 tahanan politis
Indonesia yang mungkin akan dibebaskan. Ia menyatakan dengan tegas
bahwa hal terpenting bagi Habibie adalah untuk memulihkan "setabilitas"
dan "kepercayaan penanam modal".
Apakah kemudian yang dibeberkan oleh pembebasan pilihan ini
tentang rejim Habibie dan "reformasi politis" yang dituntut
oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan pemerintah-pemerintah
di Washington, Tokyo, Berlin dan Canberra?
Daftar-daftar politis dari keduanya Muchtar Pakpahan dan Sri
Bintang Pamungkas menunjukkan bahwa mereka dianggap oleh banyak
orang yang berkedudukan tinggi sebagai hal yang penting untuk
menegakkan lambang "demokrasi" perhiasan di Indonesia
dan mencegah perkembangan dari pergerakan industri dan politis
oleh kaum buruh di Indonesia
Penciptaan dari katup-katup keamanan politis dalam bentuk
partai-partai pengganti dan serikat-serikat buruh dilihat
dalam bagian-bagian ini sebagai hal yang penting untuk memaksakan
peraturan-peraturan kapitalis, terutama dengan merosotnya kondisi
ekonomi, yang melemparkan jutaan buruh pabrik dan buruh konstuksi
dari pekerjaan mereka dan menyebabkan kenaikan harga-harga bahan
pangan dan bahan-bahan pokok lainnya secara meroket.
Timbulnya kaum buruh
Dalam pusat dari krisis politis ini adalah perubahan ekonomi
yang luas, yang telah meremehkan pemerintahan diktator Suharto.
Pada Tahun 1965 Suharto dilantik oleh karena koup, yang kemudian
diikuti oleh anti-komunis pembantaian, didukung oleh Amerika Serikat
dan sekutu-sekutunya kekuatan yang sama sekarang ini sedang
mengemukakan tuntutan untuk "reformasi demokrasi"
Lebih dari dua abad militer diktator telah mempertahankan diri
melalui penghasilan-penghasilan dari minyak dan pembangunan dari
ekonomi yang dijaga ketat dan diatur. Tetapi, selama abad yang
telah lalu, kondisi-kondisi ini hancur dengan korporasi transnasional
merubah cara bekerja mereka secara global untuk mencari sumber-sumber
tenaga kerja yang lebih murah.
Indonesia secara meningkat telah menjadi mimbar untuk sidang
ekspor multinasional-multinasional, terutama dari Jepang, AS,
Jerman dan Korea Selatan, yang sering bekerja dalam hubungan persekutuan
dengan keluarga Suharto dan kongsi-kongsinya. Sampai dengan tahun
1996 Nike, sebagai contoh, telah menghasilkan sepertiga dari sepatu-sepatu
sportnya di pabrik-pabrik kecil dengan buruh yang dibayar rendah
di Indonesia.
Kondisi-kondisi di dalam pabric-pabric ini sangat mengerikan,
dengan 12 jam waktu bekerja dan 50 jam seminggu, wajib bekerja
lebih setelah jam kerja yang tidak dibayar dan tidak ada waktu
untuk libur tahunan. Pada tahun 1997 gaji yang minim biasanya
berbanding dengan $US2.46 per hari yang sudah sangat sedikit,
tetapi mengikuti runtuhnya rupiah pada tahun lalu jumlah yang
tidak berharga itu menjadi 50 cents pada saat ini. Banyak perseroan-perseroan,
termasuk perusahan-perusahaan milik negara dan korporasi-korporasi
transnasional, seperti anggota-anggota Nike, dengan teratur membayar
lebih sedikit, lebih-lebih dalam industri-industri tektil dan
sepatu, yang sebagian besar pekerjanya adalah wanita.
Didukung bukan hanya oleh penindasan militer yang secara terus
terang itu tetapi juga anggota-anggota serikat buruh yang resmi,
SPSI, pemerintah Suharto memaksakan kondisi-kondisi ini sehingga
dapat bersaing dengan rejim-rejim Asia lainnya, Cina dan Vietnam
lebih-lebih, untuk memberikan kondisi yang menghasilkan keuntungan
bagi penanam modal global.
Jutaan kaum tani di Indonesia telah didorong oleh kemiskinan
dan kehilangan ladangnya pindah ke kota-kota dan pabrik-pabrik
untuk diperas sebagai buruh yang digaji, menghasilkan barang dagangan
untuk ekspor ke AS dan pasar-pasar negara barat yang lainnya.
Para buruh di Indonesia sekarang telah mencapai 90 juta, setelah
berkembang sampai 2.5 juta setiap tahunnya mulai sekitar tahun
1990-an.
Sebagai hasilnya, pemerintahan diktator yang selama 32 tahun
itu menghadapi bertambahnya kegiatan-kegiatan pemogokan. Meskipun
menurut perhitungan sendiri, ada 251 pemogokan di tahun 1992,
yang meliputkan lebih dari 100.000 buruh, dibandingkan dengan
hanya 19 penghentian-penghentian di tahun 1989. Dalam tahun belakangan
ini, pergolakan-pergolakan pemogokan meledak di Medan, Sumatra
Utara, pada tahun 1994 dan dengan terus menerus di sekitar daerah-daerah
industri Jakarta. Tahun lalu, 16.000 pekerja-pekerja Nike mogok
menolak kondisi mereka.
Pada bulan akhir-akhir ini, di tengah-tengah keruntuhan ekonomi,
beberapa berita pemogokan telah timbul dan pergejolakan politis
oleh kaum buruh. Daripada kelas permusuhan yang tertahan oleh
rejim itu yang semula dalam bentuk kegaduhan dan perampokan di
Jakarta dan kota-kota lain. Tetapi pemogokan-pemogokan itu diberitakan
timbul lagi di hari-hari terakhir ini.
Muchtar Pakpahan
Hanya beberapa hari setelah membebaskan Muchtar Pakpahan, pemerintah
Habibie mengangkat larangan kepada badan serikat buruh yang telah
dikepalainya selama 6 tahun, Serikat Buruh Sejahtara Indonesia
(SBSI).
Sejak tahun 1992, bekas guru universitas bagian hukum berada
ditengah-tengah tuntutan yang didukung oleh AS bahwa rejim di
indonesia harus memperbolehkan pembetukan dari serikat buruh mode
barat untuk menahan kaum buruh. Pada bulan Juni 1992 pemerintahan
Clinton mengancam sanksi perdagangan terhadap Indonesia, didukung
oleh petisi yang dikemukakan oleh Asia Watch dan International
Labor Right Education dan Research Fund, keduanya merupakan badan-badan
yang dibiayai oleh pemerintah AS dan mempunyai hubungan dekat
dengan CIA dan Amerika serikat buruh birokrasi, AFL-CIO.
Petisi itu menunjukkan pada fakta-fakta bahwa pensiunan komandan-komandan
militer dan anggota-anggota partai Golkar menguasai pimpinan dari
SPSI serikat yang resmi itu dan mengamat-amati bahwa anggota yang
diberitakan berjumlah satu juta itu ternyata terdiri kurang daripada
6 persen tenaga kerja. Hal itu ditunjukkan kepada tumbuhnya jumlah
pemogokan yang meledak diluar kontrol SPSI.
"Pada hakekatnya karena cara-cara bekerja yang ada untuk
menyelesaikan perselisihan dalam pekerjaan tidak, untuk sebagian
besar, memperbolehkan ungkapan yang sebenarnya dari tuntutan-tuntutan
buruh, banyak buruh yang bernaung kepada pemogokan-pemogokan dan
penghentian-penghentian kerja untuk menarik perhatian kepada penderitaan-penderitaan
mereka, terutama di Jawa Barat dan area industri di sekitar Jakarta
Semuanya adalah pemogokan yang tidak terkontrol."
Dalam jawaban kepada petisi AS, rejim Suharto mempertahankan
penggunaan militer untuk menekan pemogokan-pemogokan tersebut,
sebenarnya untuk mencegah berkembangnya pergerakan politis diantara
buruh-buruh yang muda.
"Salah satu dari tugas-tugas militer berhubungan dengan
pemogokan," hal itu mengatakan, " adalah untuk menentukan
jika ada kekuatan dari luar yang bekerja
Satu kemungkinan
jalan masuk komunis subversi terhadap pemerintah adalah melalui
kegelisahan para buruh. Pemerintah terutama takut bahwa ideologi
komunis mungkin akan menjadi sesuatu yang menarik bagi para pemuda
yang tidak pernah hidup dalam kesengsaraan nasional pada sekitar
tahun 1960, dan banyak orang-orang muda yang dapat bereaksi di
tempat kerja melalui perselisihan diperkerjaan.
Pemerintah Suharto melarang pertama-tama SBSI kongres nasional
pada tahun 1993, mendorong pengutukan umum oleh kedutaan besar
AS di Jakarta. Bukti-bukti dari campur tangan lansung pemerintah
AS dalam SBSI telah sebelumnya timbul pada tanggal 28 Oktober
1992 ketika polisi di Tangerang, Jawa Barat, menghentikan pertemuan
dimana 9 anggota SBSI, dikepalai oleh Muchtar Pakpahan, sedang
membicarakan bagaimana untuk membuka kantor cabang.
Diantara orang-orang yang ditahan adalah Greg Talcott, kedutaan
besar AS Labour Attache, yang mengatakan bahwa dia hadir hanya
sebagai pengamat. Hal itu merupakan politik AS yang sudah lama
dijalankan untuk menempatkan petugas-petugas CIA di negara lain
sebagai Labour Attache. Talcott dibebaskan setelah satu jam. Sedang
yang lainnya ditanyai sepanjang malam dan baru dibebaskan pada
pagi harinya.
Delapan belas bulan setelah itu, Pakpahan dipegang sebagai
bertanggung jawab untuk pemogokan-pemogokan oleh para buruh dan
demonstrasi-demonstrasi di Medan pada bulan April 1994 dan dihukum
selama empat tahun di penjara. Kejadian-kejadian di Medan dimulai
ketika sekitar 25.000 buruh dari 42 pabrik-pabrik di derah sekitarnya
berkumpul di lapangan utama kota itu. Mereka menantang kaum militer
dan pemerintah setempat, untuk menuntut kenaikan gaji; hak-hak
serikat buruh; penyelidikan akan kematian seorang buruh. Pada
pagi hari berikutnya, kerusuhan dan perampokan terpecah, termasuk
penyerangan terhadap bisnis-bisnis milik orang-orang Cina.
Pada pertemuan tanya jawab dengan Tempo pada tahun 1995,
sebuah majalah di Indonesia, Pakpahan mengatakan bahwa ia berusaha
untuk menghentikan demonstrasi yang bermula di Medan. Ia menyatakan
bahwa ia adalah anti-komunis yang berpegang kepada Suharto pancasila
idelogi yang resmi. Berbicara seperti seorang birokrat serikat
buruh dimanapun di dunia, ia berkata bahwa serikat-serikat itu
mengajarkan dengan sungguh-sungguh disiplin di antara para buruh
dan SBSI mempunyai tugas-tugas untuk meningkatkan produksi. Ia
memohon untuk dialog dengan pemerintah dan pemilik-pemilik perusahaan.
Pada tahun 1995 Peradilan Agung membebaskannya berdasarkan
permohonan tetapi perintah itu dibatalkan oleh hakim dari Peradilan
Agung lainnya pada bulan Oktober 1996. Dia juga menghadapi tuduhan-tuduhan
subversi terhadap pemerintah dalam hubungan kepada kerusuhan di
jakarta pada bulan Juli 1996.
Pada pembebasannya, Pakpahan mendesak Habibie untuk mengumpulkan
boneka-boneka Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) untuk memilih
seorang presiden peralihan. Seperti burjuis oposisi lainnya, dia
mendesak bahwa semua tuntutan untuk reformasi harus dibatasi dalam
cara bekerja politis yang sempit.
Sebagai tambahan, ia berbicara akan pembentukan sebuah partai
buruh (labour party). Tokoh-tokoh lainnya, termasuk birokrat-birokrat
dari SPSI serikat federasi yang resmi, diberitakan sedang membentuk
sebuah Partai Pekerja Indonesia. Pembentukan yang seperti itu
akan merupakan usaha untuk mengalihkan para buruh dalam reformis
dan jalur-jalur serikat buruh yang akan melekatkan mereka pada
diktat-diktat dari sistem keuntungan (profit system).
Proses ini dapat dilihat di Korea Selatan, dimana bekas serikat-serikat
bawah tanah KCTU telah berusaha untuk menahan penolakan terhadap
pemerintah Kim Dae Jung IMF program. Pada permulaan tahun ini,
KCTU dihadang dengan pemimpin-pemimpin serikat "yellow"
(kuning) yang dibiayai oleh bekas pemerintahan diktator militer
untuk memperbolehkan pasal hukum tersedia untuk pemecatan massal.
Sri Bintang Pamungkas
Sri bintang pamungkas, bekas guru ahli mesin di elit Indonesia
Universitas (UI), telah selama beberapa tahun merupakan tokoh
utama dalam uasaha-usaha untuk menempa seorang bujuis "Islamic"
oposisi kepada rejim Suharto.
Pernah sebagai seorang anggotta paerlemen bagi partai yang
berdasarkan Islam yang resmi, PPP, ia dikejar-kejar setelah bulan
Maret 1994 ketika ia membuka sebuah perkara kredit, yang melibatkan
sebuah bank negara, keluarga Suharto dan yang sebelumnya adalah
menteri Penerangan Harmoko di PT Sritex, sebuah pabrik tektil
yang besar dekat Solo, Jawa Tengah.
Dia dikeluarkan dari PPP setelah perlibatannya dalam perkumpulan
anti-Suharto di Jerman pada bulan April 1995 dan juga tolak di
parlemen. Tetapi dia tidak dikeluarkan dari ICMI, perserikatan
sarjana-sarjana Islam yang didukung oleh Suharto dan dikepalai
oleh Habibie.
Pada tahun 1966 ia membentuk partai politis yang tidak resmi,
PUDI. Ditangkap pada bulan Maret 1996 dan dipenjarakan selama
34 bulan karena mengejek presiden (hukuman maksimum adalah enam
tahun). Ditangkap bersamanya adalah teman bekerjanya di PUDI Saleh
Abdullah dan Julius Usman.
Perpektipnya adalah pembentukan sebuah pemerintahan nasionalis
yang tidak berdasarkan militer mirip di Malaysia, Korea Selatan
dan Thailand. Pada bulan Maret 1994 dalam pertemuan pertanya jawaban
dengan Inside Indonesia, Sebuah majalah yang berkedudukan
di Australia, ia mengambarkan pemerintahan Mahathir di Malaysia
sebagai model ahli politis, teknokrat politik-politik keIslaman.
Ia memuja Korea selatan dan Thailand sebagai "contoh yang
memberikan semangat" dari " negara-negara yang kuat
dan maju" karena mereka telah dapat membalikkan kekuasaan
militer yang berabad-abad itu.
Pada bulan Agustus 1995, berbicara dalam penyelenggaraan ke
50 dari hari Kemerdekaan Indonesia, ia memohon untuk kembali kepada
" prinsip-prinsip demokrasi yang sebenarnya" dari pancasila
dan konstitusi 1945. Kontitusi 1945 itu telah memberikan kepada
presiden negara yang pertama, Sukarno, pada hakekatnya kekuasaan
yang tidak terbatas. Pancasila adalah azas-azas yang diangkat
oleh rejim Suharto untuk mengakui secara sah kekuasaan militer
dalam kehidupan politis dan ekonomis.
See Also:
Pelajaran-Pelajaran
Dari Kudeta 1965 Indonesia
Perjuangan untuk demokrasi di Indonesia
Apakah tugas-tugas sosial dan politis yang dihadapi oleh rakyat?
[28 May 1998]
Kelas-kelas sosial yang manakah akan
mendukung perjuangan untuk demokrasi di Indonesia?
[22 May 1998]
Masalah-masalah yang mendesak sedang
dihadapi oleh rakyat Indonesia
[18 May 1998]
Military dominates Habibie's cabinet
[26 May 1998]
A revealing interview
- PRD of Indonesia calls for alignment with US
[15 April 1998]
Top of page
The WSWS invites your comments.
Copyright 1998-2008
World Socialist Web Site
All rights reserved |